IWANGEODRS PEMBELAJARAN GEOGRAFI ON LINE SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA

GEOGRAFI KOTA

Konsep Geografi Kota

Pengertian
Dalam kehidupan sehari-hari kota selalu Nampak sibuk. Warga kota yang menjadi enghuni kota memerlukan tempat berteduh, bekerja, tempat bergaul, dan tempat menghibur diri. Oleh karena itu kita dapat melihat beberapa aspek kehidupan di kota diantaranya aspek social, budaya, ekonomi, aspek pemerintahan dan sebagainya.
Menurut Bintarto:”Dari segi geografi, kota dapat diartikan sebagai suatu system jaringan kehidupan manusia yang di tandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan di warnai dengan strata social-ekonomi yang heterogen dan coraknya yang materialistis, atau dapat pula di artikan sebagai bentang budaya yang di timbulkan oleh unsure-unsur alami dan non alami dengan gejala-gejala pemusatan yang cukup besar dengan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistis di bandingkan dengan daerah belakangnya.”
Dari fakta, kota merupakan tempat bermukim warga kota , tempat bekerja, tempat hidup, dan tempat rekreasi. Oleh karena itu, kelangsungan dan kelestarian kota harus di dukung oleh sarana dan prasarana yang memadai untuk waktu yang selama mungkin.
Istilah kota dan daerah perkotaan di bedakan di sini karena ada dua pengertian yaitu: kota untuk city dan daerah perkotaan untuk ‘urban’. Istilah city di identikkan dengan kota, sedangjan urban berupa daerah yang memiliki suasana kehidupan dan penghidupan modern, dapat di sebut sebagai daerah perkotaan.
Penggolongan kota dapat di dasarkan pada fungsi, struktur mata pencaharian, tipe masyarakat, jumlah penduduknya, besar-kecilnya daerah permukiman dan sebagainya. Jadi penggolongan kota ini dapat dilihat dari segi ekonomi, segi sosiologi, segi demografi, dan segi geografis yang abstrak.
Struktur Kota
Dari segi geografis, studi tentang kota adalah penting dan menarik, karena dalam disiplin ini di perhatikan mengenai halihwal lokasi kota, kedudukan kota, hubungan kota dengan daerah di sekitarnya (location, site and situation). System zoning dan perubahan-perubahan yang timbul, perkembangan kota dan masalah-masalah yang di hadapinya. Menurut Freeman (1958), dikatakan bahwa:”planning has an inescapable basic”. Dengan pernyataan ini maka geografi akan banyak membantu di bidang perencanaan kota . mengenai hal ini dapat di baca buku-buku seperti Geography and Planning karangan Freeman, Urban Regional and Planning karangan Brian J. Loughlin (1970).
Ekspresi demografi dapat di temui di kota-kota besar. Kota-kota sebagai pusat perdagangan, pusat pemerintahan dan pusat jasa lainnya menjadi daya tarik bagi penduduk di luar kota. Banyak penduduk dari luar kota hilir mudik ke kota untuk keperluan berdagang atau keperluan lain yang berhubungan dengan pekerjaannya sehari-hari.
Struktur penduduk kota dari segi umur menunjukkan bahwa mereka lebih banyak tergolong dala umur produktif. Kemungkinan besar adalah bahwa mereka yang berumur lebih dari 65 tahun atau mereka yang sudah pension lebih menyukai kehidupan dan suasana yang lebih tenang. Sussana ini terdapat di daerah pedesaan atau ‘suburban’. Selain dari pada itu perkembangan yang terjadi di dalam kota terutama dalam inti kotanya menyebabkan daerah tersebut menjadi daerah pusat kerja penduduk yang masih berumur produktif baik di bidang perdagangan, pendidikan dan sebagainya.
Struktur kota dapa di lihat dari jenis-jenis mata pencaharian penduduk atau warga kota. Sudah jelas bahwa jenis mata pencaharian penduduk kota di bidang nonagraris seperti pekerjaan-pekerjaan di bidang perdagangan, kepegawaian, pengangkutan, dan di bidang jasa serta lain-lainnya. Dengan demikian struktur dari jenis-jenis mata pencaharian akan mengikuti dari suatu kota.
Tanda Pengenal Kota
Tanda pengenal kota terutama di kota-kota yang tergolong kota besar dapat dilihat pada beberapa kenampakan antara lain adalah cirri fisis dan cirri social. Menurut Bintarto dalam bukunya Pengantar Geografi kota, maka beberapa ciri fisis dapat di tunjukkan sebagai berikut:
1)Tempat –tempat untuk pasar dan pertokoan. Pasar merupakan titik point dari suatu kota. Pada waktu dulu pasar merupakan daerah yang terbuka, di mana para petani dan pengrajin membawa barang – barangnya dan melakukan perdagangan secara barter atau tukar barang dengan barang. Kemajuan di bidang transportasi dan di gunakannya system uang, maka system barter ini menjadi system jual-beli. Perkembangan selanjutnya di bidang industry telah mebawa perubahan yang besar untuk pasar ini. Sifat pasar berubah dari daerah terbuka menjadi gedung-gedung pusat perdagangan yang sedikit banyak tertutup, yang menjual belikan hasil bumi dan hasil-hasil industry.
2)Tempat – tempat untuk parkir. Daerah-daerah pusat kegiatan di kota ini dapat hidup karena adanya jalur jalan, alat pegangkutan sebagai wadah arus penyalur barang dan manusia. Kendaraan pengangkut barang maupun orang tidak selalu dalam keadaan bergerak terus, tetapi berhenti di tempat-tempat tertentu.
3)Tempat-tempat rekreasi dan olahraga. Tempat rekreasi dan olahraga dikota ini atau di desa adalah penting bagi manusia. Kita ingat pepatah:”dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat” .(mensana Incorporesano)
Demikianlah ciri-ciri pokok tentang suatu kota. Perubahan dan variasi dapa terjadi, karena tidak ada dua kota yang sama benar struktur dan keadaannya. Suatu hal yang perlu di tambahkan sebagai penjelasan ialah pengertian mengenai istilah ‘neighborhood’. Dalam pengertian tersebut terkandung unsur-unsur fisis dan social, karena unsure-unsur tersebut terjalin menjadi satu unit yang merupakan satu unit tata kehidupan kota. Unsur – unsurnya antara lain: gedung sekolah, bangunan pertokoan, pasar, daerah-daerah terbuka untuk rekreasi , rel kereta api dan jalan mobil serta sebagainya. Unsur-unsur tersebut menimbulkan kegiatan dan kesibukan dalam kehidupan sehari-hari, jadi sesungguhnya ‘neighborhood’ ini sudah tidak lagi menjadi hal baru bagi kita.
Pemekaran Fisik Kota
Di kota kota yang sudah maju, kota tidak hanya luas secara meb\ndatar tetapi juga menegak. Gedung-gedung bertingkat merupakan cirri khas untuk kota yang modern. Masalah-masalah yang di timbulkan sebagai akibat pemekaran kota adalah masalah perumahan, masalah sampah, masalah di bidang kelalulintasan, masalah kekurangan gedung sekolah, masalah terdesaknya daerah persawahan di perbatasan luar kota dan masalah administrative pemerintahan. Masalah-masalah yang banyak ini kemudian mendesak para perencana dan pengatur kota untuk segera dapat mengatasi masalah-masalah tersebut. Masalah yang bersifat fisis ini ternyata juga bersangkut-paut dengan masalah social-ekonomi.
Kurangnya daya tampung perumahan bagi penduduk berpenghasilan kecil atau minim dan bagi para penganggur dari luar kota dapat memperluas daerah alam dan menambah jumlah orang yang di sebut para “gelandangan”. Kemudian timbul dari keadaaan tersebut di atas berbagai bentuk kriminalitas dan polusi yang sangat mengganggu ketenangan kota. Denga demikian dampak bahwa gejala-gejala fisik, social, ekonomi yang negative ini di timbulkan karena masih berkurangnya daya tampung kota.
Untuk mengatasi berbagai masalah yang di timbilkan oleh pemekaran kota, peranan aparatur kota sangat mennetukan keberhasilan program-program pembangunannya.
Sumber penyebab terjadinya pencemaran lingkungan yang terjadi di daerah kota ternyata tidak dapat lepas dari akibat adanya perkembangan kota dan kemajuan teknologi. Aktivitas manusia dengan teknologi sederhana, tradisional, ataupun teknologi pada jenis yang maju telah banyak menggoyahkan lingkungan dalam arti negative, karena kurangnya kesadaran dab kurangnya perhitungan manusia dalam memanfaatkan teknologi tersebut.
Masalah pencemaran lingkungan hidup di kota tidak kalah pentingnya dengan masalah social dan ekonomi untuk dapat di perhatikan secara serius. Hal ini mengingat bahwa, (1) ketenangan penduduk atau warga kota semakin menurun akibat pencemaran fisis, seperti pencemaran air, udara, dan suara.
Degradasi lingkungan atau pencemaran lingkungan yang terjadi di kota tidak hanya bersifat fisis, tetapi juga bersifat social, seperti rasa jenuh, rasa kesal, rasa “jijik” untuk tinggal di suatu tempat. Oleh karena itu, penyelesaiannya sebaiknya di dekati dengan menggunakan pendekatan manusiawi atau human “approach”.
Keadaan yang semakin memburuk ini harus dapat di cegah agar tidak berlarut-larut seperti yang di nyatakan oleh Ray, M. Northam sebagai berikut: “Solutions to physical problems of environmental degradation in the city are essential to survival of the population; solutions to societal problem of environment degradation are essential to enhancement of livability for the population”. Terutama pada kota-kota metropolitan gejala-gejala pencemaran lingkungan hidup kota harus mendapat perhatian secara sungguh-sungguh karena beberapa kota metropolitan “livability” nya telah di sinyalir telah berada di bawah garis atau tingkat minimal, sebagai akibat dari pengrusakan lingkungan hidup kota.
Kota Sebagai Lingkungan hidup
Kota, seperti apa yang di lihat sekarang secara sepintas merupakan pusat berbagai kegiatan dari suatu wilayah tertentu, antara lain: pusat pengelompokan penduduk, pusat kegiatan ekonomi, kegiatan budaya, kegiatan politik, dan sebagainya. Kota adalah hasil dari suatu proses pertumbuhan, ekonomi, social, budaya, sejarah, dan geografis. Ruang, waktu, dan potensi sangat menentukan terjadinya perkembangan atau pemekaran kota. Potensi kemudahan yang di maksud di sini adalah “site” dan situation” yang di miliki oleh setiap kota.
“site” merupakan kedudukan fisikal (physical setting) untuk suatu tempat, misalnya: kota di perbukitan, kota sungai, kota di pelabuhan, kota di padang pasir, dan sebgainya. Site yang dimiliki suatu tempat atau kota berbeda-beda dan perbedaan ini mengakibatkan perbedaan corak, sifat, dan perkembangan kotanya. Bandingkan saja perkembangan kota pelabuhan dengan kota pegunungan, perbedaannya tidak hanya di lihat pada pola dan struktur kota saja, melainkan dapa di lihat dari sifat dan kebudayaan penghuninya. Jadi, site walaupun nampaknya sebgai suatu wujud yang fisikal tetapi ternyata mempunyai pengaruh yang tidak Nampak langsung terhadap proses perkembangan kota.
“Situation”, dapat di artikan sebagai posisi geografi dari suatu tempat. Dalam hal ini, bagaimana hubungan kota itu dengan daerah belakangnya (hinterland) dan bagaimana pula hubungannya dengan kota-kota lain di sekitarnya? Selain itu juga di perhatikan bagaimana lokasi kota tersebut di dalam “network”, seperti jaringan perdagangan, jaringan jalan, jaringan social, dan sebagainya. Lingkungan ini lebuh hidup dari pada lingkungan yang di timbulkan oleh “site”.
Degradasi Lingkungan Hidup Kota
Kemunduran lingkungan hidup yang juga di kenal dengan istilah”urban environment degradation” pada saat ini telah meluas dari berbagai kota dunia dan kota di Indonesia sudah nampak ada gejala yang membahayakan.
Kemundurn atau kerusakan lingkungan hidup dapat di lihat dari dua segi: (1) dari segi fisis yaitu gangguan yang di timbulkan dari unsur-unsur alam seperti air yang sudah tercemar dan udara yang telah tercemar pula. Tercemarnya air dan udara ini menyebabkan gangguan kesehatan dan juga mematikan penduduk kota. Degradasi jenis ini dapat di golongkan dalam degradasi lingkungan yang bersifat fisis atau “ environmental degradation of physical nature”. (2) dari segi masyarakat atau social yaitu gangguan yang di timbulkan oleh manusia sendiri dan dapat menimbulkan kehidupan yang tidak tenang dan tidak tentram. Degradasi jenis ini di sebut degradasi lingkungan yang bersifat social atau “environmental degradation of societal nature”.
Urbanisasi yang juga menjadi salah satu penyebabnya; urbanisasi yang di timbulkan oleh industrialisasi yang berkkembang di kota, mengakibatkan kegiatan tersier di daerah perkotaan meningkat, terutama di bidang perdagangan dan pelayanan industri.
Dengan makin meningkatnya kerusakan lingkungan hidup kota, maka di beberapa kota sudah nampak “daya dukung” hidup kota sudah mencapai batas minimal;, sehingga keadaan ini dapat mengurangi ketenangan dan kesenangan hidup peduduknya.
Kemajuan teknologi telah menimbulkan masalah dan tentunya di harapkan teknologi juga dapat mengatasi masalah yang di timbulkan tersebut. Kota yang pada permulaanya banyak menarik penduduk, saat ini nampaknya akan banyak di tinggalkan penduduk kota. Apakah urbanisasi akan menurunkan popularitasnya dan menjadi gerakan penduduk yang terbalik yaitu “ruralisai”? gejala ini mungkin terjadi, karena beberapa proses pemekaran kota sudah meunjukkan arahnya yaitu menuju ke daerah pinggiran kota yang termasuk wilayah desa. Gejala ini tentunya akan menmbulkan masalah di daerah tepian kota, terutama masalah lahan dan penggunaannya. Beberapa tulisan atas dasar penelitian geografi telah menunjukkan kenyataannya di sekitar kotya madya Yogyakarta.

Pemasyarakatan Peran Geografi

setiap bidang pekerjaan dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana peran Geografi di Indonesia.
Secara umum lapangan kerja bagi lulusan Geografi dapat dibagi dalam tiga kelompok yaitu :
(1) bidang kerja untuk menjaga keberlanjutan eksistensi ilmu Geografi
(2)bidang kerja untuk mendukung pengembangan ilmu Geografi
(3)bidang kerja untuk melaksanakan terapan ilmu Geografi
Di samping itu usaha pengelompokan dapat dilakukan menurut lingkup pekerjaannya seperti pengelolaan lingkungan, pendidikan, SIG dan PJ, kartografi dan perencana, atau menurut institusi kerja seperti perusahaan bisnis atau industri swasta, lembaga pemerintah pusat dan daerah (lokal) , BUMN dan lembaga pendidikan.
Menurut Haggett (2001, p.768) lulusan program studi Geografi di Amerika Serikat paling banyak bekerja pada bidang pengelolaan lingkungan (13%) dan paling sedikit bekerja sebagai perencana (7%) sedangkan berdasarkan institusi kerjanya paling banyak bekerja di perusahaan bisnis/industri swasta (40%) dan paling sedikit bekerja di lembaga pemerintah lokal (10%). Fakta tersebut menunjukkan bahwa sektor swasta di Amerika Serikat memiliki apresiasi paling besar terhadap profesi geograf dibanding sektor lainnya.
Walaupun belum ada penelitian secara lengkap tentang sebaran sarjana Geografi di Indonesia, namun dapat diperkirakan bahwa sekitar 5000 orang lulusan Geografi UI dan UGM tersebar pada semua bidang pekerjaan seperti diuraikan di atas. Secara kualitatif dapat dikemukakan bahwa sebagian besar bekerja pada lembaga pemerintah dan lembaga pendidikan sedangkan paling sedikit bekerja pada lembaga bisnis swasta. Di Samping faktor budaya, faktor lain yang diduga mempengaruhi hal tersebut adalah belum jelasnya selling-point profesi Geografi selama ini. melalui kegiatan lembaga swadaya masyarakat atau individu. Diseminasi hasil penelitian dan pemikiran Geografi melalui berbagai jurnal ilmiah merupakan salah satu cara efektif pemasyarakatan peran Geografi. Organisasi profesi seperti IGI dan IGEGAMA dapat melakukan fungsi sebagai interface untuk memasyarakatkan produk pemikiran akademis Geografi ke dalam lingkungan pemerintah dan swasta.
Keragaman jenis hasil penelitian baik dari segi jumlah dan mutunya serta intensitas komunikasi melalui jaringan masyarakat geografi dapat meningkatkan apresiasi pengguna terhadap peranan Geografi di Indonesia. Di samping itu informasi tentang lapangan kerja dan konsentrasi sebaran lulusan Geografi pada Kegiatan pemasyarakatan peran Geografi dapat dilakukan melalui berbagai cara sesuai kondisi dan dinamika masyarakat, baik jalur formal seperti melalui kegiatan seminar hasil penelitian ilmiah dan penelitian terapan, kegiatan praktis pembangunan wilayah dalam berbagai skala atau jalur non formal antara lain Berdasarkan data proyek penelitian yang dilaksanakan Pusat Penelitian Geografi Terapan (PPGT) Departemen Geografi FMIPA UI dan informasi tempat bekerja para lulusan Geografi akhir akhir ini ada indikasi semakin besarnya apresiasi masyarakat swasta terhadap profesi dan keahlian Geografi. Hal ini kemungkinan disebabkan antara lain oleh faktor keahlian teknis SIG dan PJ yang dikuasai lulusan Geografi saat ini. Oleh karena itu faktor yang menjadi “selling-point” tersebut dapat secara efektif dimanfaatkan dalam setiap kegiatan pemasyarakatan peranan Geografi di berbagai lingkungan masyarakat.
Upaya pemasyarakatan peran Geografi perlu dilakukan secara intensif karena adanya kecenderungan penurunan perhatian masyarakat dan pemerintah terhadap keberadaan pendidikan Geografi di Indonesia. Wacana tentang akan dihapuskannya pelajaran Geografi di sekolah adalah sekedar contoh, walaupun pada akhirnya pemerintah menolak pemikiran tersebut. Contoh lain adalah belum adanya kemauan politik pemerintah untuk menetapkan profesi Geografi sebagai profesi penting sejajar dengan ekonomi, hukum atau teknik.

Serba Serbi Geografi

Geografi yang semulanya disebut ilmu bumi, sebagai pengetahuan diajarkan di Perguruan Tinggi dengan sebutan geografi akademis dan di sekolah dasar sampai sekolah lanjutan atas dengan sebutan geografi sekolah atau geografi pengajaran. Sebutan ilmu bumi disebut sekarang kurang tepat; ilmu bumi lebihlah cocok untuk geologi (dari kata Yunani,geos dan logos),yakni suatu pengetahuan alam yang mempelajari bumi seutuhnya,dari quilt luar sampai intinya,tetapi tanpa memperhatikan hubungan bumi secara khusus dengan manusia yang mengetahuinya.

Pengajaran geografi yang diadakan sebenarnya mengandung dua tujuan :

1.Tujuan materiil yang artinya mempelajari hal-hal untuk diketahui belaka sehingga untuk jenis ini dibutuhkan latihan mengingat.
2.Tujuan formal yang mengandung pengembangan daya cipta,latihan sikap pribadi dan kesediaan melayani masyarakat.

Hal ini semua bertalian erat dengan didaktik dan metodik khusus geografi yang perlu diketahui oleh para guru geografi.

Geografi memandang bumi sebagai habitat manusia yaitu tempat tinggal manusia. Habitat ini terdiri atas bingkai alami (human setting atau cultural setting). Jelas bahwa geografi tak hanya mempelajari aspek alami dari bumi saja akan tetapi juga aspek manusiawi ,baik yang bercorak ekonomis,sosiologis,politis,cultural dan religius. Semua itu dipelajari dengan latar belakang lingkungan alam.

Dapat kita kaji bahwa yang mempengaruhi kehidupan manusia adalah beberapa factor yang mempengaruhi yaitu : relasi ruang (likasi,posisi,bentuk,luas,jarak),relief atau topografi (tinggi rendahnya permukaan bumi),iklim (dengan permusimannya),jenis tanah(kapur,liat,pasir,gambut),flora dan fauna,air tanah dan kondisi pembuangan air,sumber-sumber mineral (barang tambang) dan relasi dengan lautan.Seorang geograf Belanda LAMBOOY (1969),menemukan enam definisi geografi yang membuktikan tersimpannya unsure struktur ,fungsi dan proses itu,sebagai berikut :

1.Geografi itu adalah suatu telaah tentang perbedaan wilayah dan integrasi wilayah (HARTSHORNE ,geograf Inggris ). Terasa di sini pentingnya suatu proses.
2.Geografi manusia bertugas menelaah gejala di dalam pertalian keruangannya,(SORRE,geograf Perancis). Di sini integrasi diutamakan.
3.Tujuan geografi adalah menemukan pola dan ikatan yang azasi dari berbagai tempat yang bertalian dengan fungsinya,(BERRY,geograf Amerika). Menunjukkan pentingnya struktur yang statis hubungan antar bagian atau organisasi fungsionalnya dan proses yang dinamis.
4.Tugas geografi adalah menyelidiki obyek yang terintegrasi dalam persebaran keruangannya ,(LESZYNSKI, geograf Polandia ).
5.Geografi adalah ilmu tentang lokasi. (BUNGE , geograf Amerika ). Hal ini dihubungkan dengan geografi regional yang tugasnya menglkasifikasikan berbagai lokasi dan geografi teoritis yang tugasnya meramalkan berbagai lokasi.
6.Geografi menelaah ruang serta relasi keruangan. (ULLMANN, geograf Amerika )

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.